Di tengah pertumbuhan industri game indie Indonesia yang semakin beragam, nama Cliffbite Game muncul sebagai salah satu studio yang konsisten menawarkan pengalaman bermain yang tenang, personal, dan penuh nuansa nostalgia.
Di balik studio ini berdiri Hana, founder yang memulai perjalanannya bukan dari ambisi bisnis besar, melainkan dari relasi yang sangat personal dengan game sebagai medium ekspresi dan ruang bernafas.
Dalam kesempatan eksklusif bersama Gamekarta, Hana membuka kisah panjang di balik lahirnya Chu-Bang!, sebuah game santai bertema memancing ikan cupang yang tumbuh dari memori masa kecil, intuisi kreatif, hingga proses validasi yang tidak selalu pasti.

Hana – Founder Cliffbite Studio
Dari Dota 2 ke Dunia Game Development
Ketertarikan Hana pada dunia game bermula dari ketertarikan sederhana terhadap Dota 2.
Keinginan untuk menciptakan aset game sendiri membawanya belajar sebagai 3D artist, yang kemudian menjadi pintu masuk ke industri game sekitar enam tahun lalu.
Namun, kesadaran bahwa game development adalah sesuatu yang layak diperjuangkan secara jangka panjang baru benar-benar terasa empat tahun terakhir, saat ia mulai membangun studio sendiri.
Di situ aku sadar bikin game bukan cuma soal art, tapi juga soal bisnis dan keberlanjutan, Sejak itu aku benar-benar ingin memperjuangkan game development sebagai sesuatu yang jangka panjang.
Kesadaran tersebut mengubah cara pandangnya. Game tidak lagi sekadar medium kreatif, tetapi juga ekosistem yang menuntut ketahanan, konsistensi, dan pengambilan keputusan yang matang.

Chu-Bang!
Game sebagai Ruang Tenang dan Medium Bercerita
Latar belakang hidup yang mandiri sejak lulus SMA, ditambah ritme hidup yang berat dan nomaden, membentuk cara Hana memandang game.
Baginya, game santai adalah ruang untuk menenangkan pikiran.ย
Pengalaman berpindah kota dan negara juga memperkaya sudut pandangnya terhadap game sebagai medium bercerita.
City-building dan simulasi menjadi contoh bagaimana game dapat merepresentasikan pilihan, konsekuensi, dan perspektif personal.
โWhat if aku yang ngerancang kota ini?โ menjadi pertanyaan reflektif yang kerap muncul, dan pendekatan inilah yang kemudian memengaruhi cara Cliffbite Game merancang pengalaman bermain, bukan untuk menantang, tetapi untuk mengajak merenung.

Game Once Upon a Kingdom Karya Cliffbite Studio
Chu-Bang! : Dari Ide Sederhana ke Identitas yang Jelas
Inspirasi awal Chu-Bang! berangkat dari Kabuto Park, game bertema serangga dengan nuansa santai.
Dari sana, tim Cliffbite Game ingin menciptakan pengalaman serupa, namun lebih dekat dengan memori personal mereka.
Pengalaman bermain game memancing dan kenangan masa kecil mengadu ikan cupang menjadi fondasi ide yang kemudian dipelintir menjadi konsep utama Chu-Bang!.
Dari ide mentah itu, Chu-Bang! berkembang jadi game yang fokus ke kesederhanaan, nostalgia, dan rasa santai,
Salah satu keputusan desain paling krusial adalah meninggalkan format card game, genre yang sebelumnya menjadi zona nyaman studio.
Keputusan tersebut sempat menimbulkan keraguan, namun justru membuka ruang eksplorasi baru yang memperkuat identitas Chu-Bang! sebagai karya yang segar dan berbeda.

Fish Battle Game Chu-Bang!
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Membangun Chu-Bang! bukan tanpa tantangan. Keterbatasan sumber daya, tekanan finansial, dan keraguan terhadap keputusan yang diambil menjadi ujian paling berat.
Di titik-titik tersebut, Hana memilih untuk tidak terpaku pada hasil akhir, melainkan pada proses.
Aku ngelewatinya dengan fokus ke satu hal: bikin langkah kecil tapi konsisten. Selama masih bisa jalan dan belajar, aku percaya prosesnya lagi ngebentuk fondasi yang lebih kuat.
Pendekatan ini juga tercermin dalam cara Cliffbite Game menyeimbangkan idealisme kreatif dengan realitas sebagai indie developer.
Banyak ide harus dipangkas atau disederhanakan, namun esensi pengalaman yang ingin disampaikan tetap dijaga.

Menu Chu-Bang!
Validasi dari Pemain dan Pasar
Keyakinan terhadap Chu-Bang! mulai terkonfirmasi saat game ini dibawa ke berbagai event.
Respons positif datang bukan hanya dari gamer, tetapi juga dari non-gamer yang langsung terhubung dengan konsepnya. Momen tersebut menjadi titik balik penting.
Selain observasi terhadap game sejenis dan tren pasar, Hana juga mengandalkan resonansi emosional dari pengalaman pribadi dan memori kolektif.
Keraguan Awal mengenai apakah tema memancing hanya relevan untuk pasar tertentu pun terjawab setelah melihat respons lintas audiens.
Tema mancing ternyata bisa dinikmati lintas audiens, bukan cuma penggemar mancing saja,

Memancing Pada Chu-Bang!
Filosofi Kesederhanaan dan Langkah ke Depan
Menariknya, Hana tidak melihat keraguan atau ketakutan sebagai insecurity.
Baginya, semua yang terjadi dalam proses pembuatan game adalah bagian dari pembelajaran. Selama terus melangkah dan berkembang, tidak ada yang perlu ditakuti.
Melalui Cliffbite Game, ia ingin membangun identitas sebagai studio yang menghadirkan pengalaman santai, tenang, dan emosional, game yang memberi ruang bagi pemain untuk bernapas di tengah rutinitas. Nilai kesederhanaan dan kenyamanan menjadi benang merah yang ingin terus dijaga.
Setelah Chu-Bang!, arah Cliffbite Game tidak berhenti pada satu genre. Eksplorasi mekanik baru dan bentuk gameplay yang segar tetap menjadi fokus, selama sejalan dengan identitas yang telah dibangun.
Di tengah industri yang kerap berlomba pada kompleksitas dan skala besar, perjalanan Hana dan Cliffbite Game menjadi pengingat bahwa kesederhanaan, jika dijalani dengan jujur dan konsisten, justru dapat menjadi kekuatan paling bertahan.

Hasil Memancing Raja Ombak Chu-Bang!

