Review
Home / Review / Review Code Vein: Game Souls-like Bergaya Anime

Review Code Vein: Game Souls-like Bergaya Anime

Walkthrough Code Vein : Cathedral of The Sacred Blood Part 2
Walkthrough Code Vein : Cathedral of The Sacred Blood Part 2

Dirilis 27 September 2019, Code Veinย adalah eksperimen menarik dari Bandai Namco Studios yang mencoba menjembatani dua dunia: formula souls-like yang kejam dengan estetika anime dan narasi emosional. Sekilas, game ini sering dijuluki sebagai โ€œanime Dark Soulsโ€, tetapi label itu hanya sebagian benar.

Di balik tampilan visual yang stylish, Code Vein menyimpan sistem gameplay yang lebih fleksibel, pendekatan cerita yang lebih eksplisit, serta desain karakter yang berani tampil dramatis.

Review Code Vein menggunakan build PC Intel Core i5-10400F, RAM 16 GB, dan AMD Radeon RX 7600, game RPG ini juga menunjukkan performa teknis yang solid, bahkan melebihi requirement minimumnya

Pertanyaannya: apakah Code Vein hanya menumpang popularitas Dark Souls, atau justru punya identitas kuat sendiri? Review Code Vein ini mencoba menjawabnya secara jujur dan kritis.

Code Vein

Code Vein

Sebuah Kisah Didunia yang Sudah Hancur

Code Vein berlatar di dunia pasca-apokaliptik bernama Vein, sebuah wilayah tertutup yang hancur akibat bencana besar di masa lalu. Untuk bertahan dari kehancuran dan ancaman monster, manusia menciptakan Revenant, makhluk setengah manusia yang memperoleh kekuatan luar biasa, tetapi harus terus mengonsumsi darah agar tidak kehilangan kendali.

Review Talystro: Ketika Card Battler Tidak Menguji Refleks, Tapi Logika

Pemain berperan sebagai seorang Revenant yang kehilangan ingatan, terbangun di dunia yang sudah hampir runtuh. Dalam perjalanan, pemain akan bertemu karakter-karakter lain yang juga membawa trauma, tujuan pribadi, dan masa lalu kelam. Hubungan antar karakter menjadi bagian penting dari narasi, memperkuat sisi emosional cerita.

Para Karakter

Para Karakter didunia yang sudah hancur

Dunia Vein sendiri berada dalam kondisi krisis. Sumber daya darah yang menopang kehidupan para Revenant mulai menipis, menyebabkan banyak dari mereka berubah menjadi monster liar. Situasi ini memaksa pemain untuk menjelajah berbagai area berbahaya demi mencari jawaban dan menjaga keseimbangan dunia.

Sepanjang permainan, cerita disampaikan secara bertahap melalui eksplorasi, percakapan singkat, dan fragmen memori. Pendekatan ini membuat pemain aktif menyusun potongan cerita sendiri, tanpa dipaksa oleh cutscene panjang.

Memory Mia

Fragmen memori masa lalu salah satu karakter

Tanpa mengungkap detail penting, Code Vein mengangkat tema pengorbanan, kehilangan identitas, dan pilihan moral. Keputusan pemain dalam perjalanan akan memengaruhi arah cerita, memberikan alasan kuat untuk eksplorasi dan keterlibatan emosional.

Secara keseluruhan, alur cerita Code Vein menawarkan pengalaman naratif yang lebih eksplisit dibandingkan game souls-like lain, namun tetap menyisakan misteri yang mendorong rasa penasaran hingga akhir.

Review Story of Seasons: Friends of Mineral Town: Nostalgia yang Dipoles, Santai tapi Tetap Adiktif

Dunia Code Vein

Misteri Dibalik Dunia Code Vein

Gameplay yang Memaksa Pemain Untuk Berpikir Lebih Kreatif

Sebagai game souls-like, Code Vein tidak pernah berpura-pura ramah pemula. Setiap pertarungan menuntut ketelitian membaca pola musuh, penguasaan stamina, serta pengambilan keputusan dalam hitungan detik. Satu kesalahan kecil bisa berujung fatal.

Namun, yang membuat gameplay Code Vein menonjol adalah sistem Blood Code. Ini bukan sekadar class statis seperti di RPG tradisional. Blood Code memungkinkan pemain mengganti gaya bermain secara dinamis, bahkan mengombinasikan skill lintas class. Eksperimen gameplay menjadi terasa bebas dan personal.

Blood Code

Blood Code Berbeda Memiliki Skill Set yang Berbeda Juga

Desain map juga patut diapresiasi. Area seperti Cathedral of the Sacred Blood sengaja dirancang membingungkan, penuh jalan rahasia, jebakan, dan ilusi ruang. Game ini memaksa pemain untuk berpikir out of the box, bukan sekadar mengikuti minimap. Salah lompat? Mati. Salah baca arah? dapat dipastikan nyasar.

Loop progresinya memang keras, farming, mati, belajar, lalu mencoba lagi, tetapi justru di situlah kepuasan utama Code Vein muncul. Rasa menangnya nyata karena diraih, bukan diberikan.

Map Cathedral of Sacred Blood

Jalan Yang Membingungkan Pada Map Cathedral of Sacred Blood

Desain Interface Tidak Mengganggu Alur Permainan

Salah satu kesalahan umum game souls-like adalah antarmuka yang terlalu minimalis hingga membingungkan. Code Vein mengambil jalan tengah yang cerdas.

Review Hogwarts Legacy: Eksplorasi Dunia Sihir Epic dari Perspektif Murid Hogwarts

HUD disajikan bersih dan informatif, tanpa mengganggu fokus saat bertarung. Menu inventori tersusun rapi, detail statistik mudah dibaca, dan seluruh kontrol bisa dikustomisasi penuh, baik untuk keyboard & mouse maupun controller.

Yang patut dicatat, game ini tidak meninggalkan pemain sepenuhnya dalam kebingungan. Jika tersesat, pemain bisa kembali ke base untuk mendapatkan petunjuk tujuan misi selanjutnya. Tutorial juga disediakan di awal dan bisa diulang kapan saja. Ini bukan memanjakan, tetapi menghormati waktu pemain.

Hint Code Vein

Hint yang Bisa Dicek Di base

Background Musicย Minim Bukan Berarti Tidak Membekas

Secara audio, Code Vein tidak berisik. Musik tidak diputar terus-menerus, melainkan muncul saat momen penting: pertarungan panjang, boss fight, dan cutscene. Pendekatan ini efektif membangun tensi.

Efek suara serangan, langkah kaki, hingga dentingan senjata terasa presisi. Bahkan ada detail subtil seperti suara detak jantung dan audio yang meredup saat karakter sekarat, meningkatkan imersi secara organik.

Meski BGM tidak terlalu sering muncul, beberapa track justru membekas setelah game tamat, tanda bahwa kualitas musiknya tidak sekadar tempelan.

Boss Mido

BGM Berputar Pada Boss

Kesabaran Dan Skill Menjadi Kunci Utama

Pacing Code Vein sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan pemain. Pemain baru bisa terjebak berjam-jam di satu area, sementara pemain berpengalaman mungkin melaju lebih cepat.

Untungnya, cutscene tidak bertele-tele. Cerita disampaikan cukup ringkas, memberi ruang agar gameplay tetap menjadi fokus utama. Game ini juga tidak menyodorkan solusi saat pemain stuck, sebuah keputusan desain yang mungkin terasa kejam, tetapi konsisten dengan filosofi genre.

Cutscene

Salah Satu ScreenShot Cutscene Dalam Game

Difficulty Code Vein yang Sangat Menantang

Setelah dungeon pertama, lonjakan difficulty terasa cukup tajam. Ini bisa mengejutkan, tetapi masih dalam batas wajar untuk souls-like. Yang penting, kekalahan hampir selalu terasa adil.

Sistem penalti haze (currency) memang brutal: mati berarti kehilangan semuanya, dan mati lagi sebelum mengambilnya kembali berarti hilang permanen. Namun posisi kematian ditandai jelas pada map, memberi kesempatan adil untuk recovery.

Ketika Kita K.O

Ketika Kita K.O Map Akan Memberi Indikator Posisi Haze Jatuh

Tidak ada opsi easy mode. Satu-satunya โ€œpenyesuaianโ€ hanyalah belajar menjadi lebih baik, atau memanfaatkan sistem Blood Code dengan lebih cerdas.

Replayability Menjadi Kunci Utama

Jika ada satu aspek yang membuat Code Vein sangat worth it, maka itu adalah replayability. Game ini menawarkan:

  • New Game+
  • Tiga ending berbeda, ditentukan oleh keputusan terhadap boss Successor
  • Blood Code boss yang berbeda tergantung pilihan pemain
  • Variasi senjata dan combo yang signifikan
  • Fitur co-op multiplayer untuk melawan boss bersama pemain lain

Dengan sistem ini, playthrough kedua tidak terasa sekadar pengulangan, melainkan eksperimen gaya bermain baru. Disisi lain pemain dapat membeli dlc untuk menantang boss yang lebih kuat seperti Hellfire Knight, Frozen Empress, dan Lord of Thunder.

Mempengaruhi Ending

Ending Berubah Tergantung Aksi Pemain Kepada NPC Seperti Ini Sebelum Boss Battle

Visual yang Mengagumkan

Secara visual, Code Vein tampil konsisten dengan identitasnya. Efek pencahayaan, bayangan, dan detail lingkungan membantu navigasi, bukan malah membingungkan. Indikator minimap cukup membantu tanpa merusak eksplorasi.

Meski penuh efek darah dan nuansa gelap khas souls-like, game ini tidak membuat mata cepat lelah, bahkan di area terang atau gelap ekstrem. Estetikanya stylish, tetapi tetap fungsional.

Detail Map Gurun

Detail Pada Map Crown of Sands Terdapat Pasir Yang Jatuh Di Sisi Jurang

Untuk Siapa Game Ini Cocok?

Code Vein cocok untuk:

  • Penggemar Dark Souls dan game sejenis
  • Pemain yang suka tantangan dan sistem build fleksibel
  • Gamer yang menikmati eksplorasi map kompleks
  • Pemain yang ingin souls-like dengan cerita lebih eksplisit

Kurang cocok untuk:

  • Pemain yang mencari game santai
  • Pemain yang kurang cepat dalam pertarungan yang membutuh tempo cepat dan tepat
  • Gamer yang butuh opsi difficulty rendah
Code Vein Gameplay

Pertarungan Dalam Code Vein

Hasil Review Code Vein

Code Vein bukan souls-like revolusioner, tetapi game tersebut cerdas dalam memodifikasi formula yang sudah ada. Sistem Blood Code, replayability tinggi, dan pendekatan narasi yang lebih emosional membuatnya punya identitas sendiri.

Review Code Vein ini menempatkannya sebagai game yang sangat direkomendasikan bagi pencinta tantangan. Bukan game sempurna, tetapi jujur dengan visinya dan cukup berani untuk berbeda.

Code Vein memiliki sekuelnya yaitu Code Vein II. Dengan karakter, cerita, dan mekanik yang baru, Code Vein II akan dirilis pada tanggal 30 Januari 2026.

GAME SCORE
9/10
GAMEKARTA