Review
Home / Review / Review Cloudheim (PC): Game Action RPG Ambisius Dengan Gaya Sandbox

Review Cloudheim (PC): Game Action RPG Ambisius Dengan Gaya Sandbox

Title game
Review Cloudheim

Cloudheim menawarkan perpaduan action RPG eksploratif ala Genshin Impact dan Wuthering Wave dengan elemen shop keeping dan sandbox yang jarang ditemui di genre serupa. Mekanik solid dan audio kuat, tetapi spesifikasi minimum yang tinggi jadi penghalang utama pada permainan.

Ambisi Besar Cloudheim di Tengah Tren Action RPG

Cloudheim resmi dirilis pada 4 Desember 2025, masuk ke pasar action RPG yang sudah sangat kompetitif. Di saat banyak game sejenis bermain aman dengan formula eksplorasi dan pertarungan standar, Cloudheim mencoba menonjol lewat mekanik shop keeping dan sandbox yang dipadukan langsung ke dalam progresi RPG.

Dalam review Cloudheim ini, game dimainkan di PC dengan spesifikasi Intel Core i5-10400F, RAM 16 GB, dan AMD Radeon RX 7600. Menariknya, meski spesifikasi ini tergolong menengah-atas, Cloudheim justru mensyaratkan RTX 3070 sebagai rekomendasi GPU, angka yang cukup tinggi untuk game yang bukan AAA.

Pertanyaannya sederhana: apakah Cloudheim worth it atau tidak, terutama bagi pemain PC yang tidak menggunakan spesifikasi GPU kelas atas?

Review Cloudheim

Cloudheim

Gameplay & Mechanics: Inti Permainan yang Kuat dan Responsif

Dari sisi gameplay, Cloudheim menunjukkan fondasi yang matang. Kontrol terasa presisi, input cepat, dan respons karakter memuaskan. Ini penting karena Cloudheim bukan game button mashing, pemain diuji untuk benar-benar memahami mekanik musuh.

Review Story of Seasons: Friends of Mineral Town: Nostalgia yang Dipoles, Santai tapi Tetap Adiktif

Beberapa monster menggunakan buff shield, dan game menjelaskan solusinya yaitu dengan menyerang sampai shield tersebut hancur. Pemain juga dapat bereksperimen menghancurkan shield dengan peledak atau memanfaatkan lingkungan sekitar. Pendekatan ini membuat setiap pertarungan terasa lebih taktis daripada sekadar adu damage.

Shielded monster

Musuh yang memiliki buff prisai

Variasi mekanik juga cukup menyegarkan. Pemain bisa menarik dan menendang musuh, bukan hanya sebagai gimmick, tetapi sebagai alat strategis. Musuh jarak jauh seperti pemanah bisa ditarik mendekat, lalu dihantam atau ditendang dan menghasilkan damage besar. Ini memberikan rasa agency yang kuat dalam pertempuran.

Lasso

Bisa menarik musuh yang jauh dengan lasso

Yang paling unik adalah mekanik shop keeping. Elemen ini jarang dieksplorasi di game sandbox action RPG. Fitur ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan bagian dari identitas Cloudheim. Di sinilah game mencoba keluar dari bayang-bayang kompetitornya.

Loop progresinya pun cukup adiktif. Eksplorasi map, mencari hidden chest, mengumpulkan material, lalu meningkatkan perlengkapan menciptakan siklus bermain yang memancing rasa penasaran.

Menjual ke NPC

Kita bisa membuka toko dan menjual hasil loot kita

Interface & Antarmuka: Bersih, Informatif, Tapi Tutorial Kurang Tegas

Dari sisi antarmuka, Cloudheim tampil rapi dan fungsional. HUD menampilkan HP bar, skill aktif, dan informasi penting tanpa mengganggu layar. Tidak ada elemen UI berlebihan yang bisa memecah fokus saat bertarung.

Review Hogwarts Legacy: Eksplorasi Dunia Sihir Epic dari Perspektif Murid Hogwarts

Cloudheim UI

UI Cloudheim yang tidak mengganggu permainan

Game mendukung berbagai input device, termasuk controller, meski dalam review Cloudheim ini dimainkan menggunakan mouse dan keyboard. Kontrol dapat dikustomisasi setelah permainan dimulai, fleksibilitas yang patut diapresiasi.

Menu navigasi memberikan informasi progress secara jelas, termasuk persentase harta karun yang telah dikumpulkan di setiap area. Inventory juga tertata rapi dan mudah dibaca, sesuatu yang sering diabaikan game RPG dengan sistem loot kompleks.

Arcadia

Peta dunia cloudheim yang memberi informasi progress penjelajahan pemain

Namun, masalah muncul di tutorial dungeon. Tidak adanya indikator navigasi di satu segmen membuat pemain kebingungan, berputar-putar tanpa arah jelas. Ironisnya, setelah tutorial selesai, sistem navigasi justru menjadi sangat membantu. Ini menunjukkan inkonsistensi desain onboarding pemain baru.

Pacing & Alur Permainan: Lambat di Permukaan, Efisien di Dalam

Secara pacing, Cloudheim terasa unik. Di permukaan, progress terlihat lambat. Namun dalam beberapa jam bermain, pemain sudah mengumpulkan banyak material untuk crafting senjata yang lebih baik. Artinya, waktu pemain dihargai dengan progress nyata.

Fitur crafting dan smelting

Kita bisa membuat senjata baru dengan melalui sejumlah proses

Cerita disampaikan melalui story box singkat, tidak bertele-tele, dan tidak memotong gameplay terlalu sering. Keseimbangan antara story dan gameplay terjaga dengan baik.

Review Sunset Sprout: Game Santai Ringan untuk Melepas Penat Tanpa Tekanan

Fitur unstuck patut mendapat sorotan khusus. Jika karakter tersangkut atau tidak bisa bergerak, game menyediakan solusi instan dengan mengorbankan karakter. Ini menunjukkan perhatian developer terhadap quality of life, hal kecil, tapi berdampak besar pada kenyamanan bermain.

Fitur unstuck

Terdapat tombol “Help I’m Stuck” yang berfungsi untuk membebaskan pemain jika mereka nayngkut dalam permainan

Difficulty Curve: Fleksibel, Tapi Kurang Gradual

Cloudheim memberi kebebasan pemain memilih difficulty sejak awal dunia dibuat. Ini nilai plus, karena pemain kasual dan hardcore sama-sama mendapat ruang.

Namun, kurva kesulitan terasa agak datar. Musuh random di map memiliki kekuatan yang relatif seragam, sehingga eksplorasi terkadang kehilangan rasa eskalasi. Untungnya, boss di story mode hadir sebagai penyeimbang, memaksa pemain menguasai kombo dan membaca pola serangan.

Tutorial boss

Boss yang terdapat pada tutorial dungeon

Kemenangan terasa bermakna karena game memberi waktu bagi pemain untuk belajar dari kekalahan. Tidak ada penalti berlebihan, bahkan nyaris tidak ada penalti sama sekali. Ini membuat Cloudheim terasa ramah, meski mungkin terlalu memaafkan bagi pemain hardcore.

Visual & Art Direction: Jelas, Fungsional, Tapi Sensitif Setting

Secara visual, Cloudheim menggunakan grafis 3D dengan arah seni yang konsisten. Objek lingkungan mudah dikenali, misalnya perbedaan antara barrel biasa dan bom terlihat sangat jelas. Efek bayangan (shadowing) juga tampil solid.

Perbedaan barrel biasa dan yang berisi bom

Terlihat perbedaan antara barrel yang berisi bom dan biasa

Namun, ada catatan penting soal setting grafis. Saat dimainkan di pengaturan low, tingkat kecerahan tinggi membuat mata cepat lelah. Sebaliknya, di medium, visual terasa jauh lebih nyaman. Ini menunjukkan bahwa Cloudheim kurang optimal di setting rendah, ironis mengingat spesifikasi minimumnya yang tinggi.

Sound Design & Musik: Salah Satu Kekuatan Terbesar

Jika harus menunjuk satu aspek yang benar-benar menonjol, sound design Cloudheim adalah jawabannya.

Efek suara, langkah kaki, serangan, lompatan, hingga interaksi dengan lingkungan terasa presisi dan sinkron dengan aksi di layar. Musik eksplorasi menghadirkan nuansa santai, lalu bertransisi ke BGM yang menegangkan saat musuh mendeteksi pemain.

Perubahan BGM

Ketika kita sedang berpetualang, tiba-tiba musik berubah itu menandakan ada musuh yang sedang menarget pemain

Yang terpenting, mixing audio rapi. Tidak ada suara penting yang tenggelam oleh musik. Soundtrack pertarungan bahkan cukup membekas, memberikan identitas audio yang kuat pada Cloudheim.

Performa & Game-Killers: Masalah Serius di Spesifikasi

Secara performa, frame rate stabil di perangkat yang digunakan. Namun, spesifikasi minimum yang sangat tinggi menjadi masalah besar. GPU AMD, termasuk RX 7600, sering mengalami crash, meski performa mentahnya cukup kuat.

Untuk mengatasi hal ini, pemain mencoba untuk menurunkan setting grafis ke low, akan tetapi permainan menjadi cepat melelahkan mata.

Tampilan grafis rata kiri

Grafis diturunkan untuk mengurangi load graphic card, akan tetapi malah cepat membuat mata lelah

Ini bukan isu kecil. Di pasar PC, AMD punya basis pengguna besar. Ketika game action RPG dengan skala seperti Cloudheim menuntut RTX 3070 sebagai rekomendasi, pertanyaan soal optimasi menjadi tak terelakkan.

Selain itu, missable content di tutorial map juga patut disorot. Banyak hidden chest yang disembunyikan tanpa adanya indikator, dan map tutorial tidak bisa diakses kembali setelah selesai. Bagi pemain perfeksionis, meskipun tidak diindikasikan dimap, akan tetapi hal ini bisa menjadi pengalaman yang menjengkelkan.

Replayability: Potensi Ada, Tapi Belum Dimaksimalkan

Cloudheim menyediakan empat job berbeda yang bisa dikombinasikan, membuka ruang eksperimen build. Ini menjadi alasan utama untuk terus bermain ulang.

Pilihan job pada cloudheim

Terdapat 4 job dengan playstyle masing-masing yang berbeda

Sayangnya, tidak ada indikasi New Game+, ending alternatif, leaderboard, atau tantangan mingguan. Replayability lebih bergantung pada rasa ingin mencoba build baru, bukan konten tambahan yang signifikan.

Untuk Siapa Game Ini Cocok?

Cloudheim sangat cocok untuk:

  • Pemain yang menyukai action RPG ala Genshin Impact
  • Pemain yang tertarik dengan shop keeping & crafting
  • Pemain yang menikmati eksplorasi dungeon dan suka mencari peti harta tersembunyi
  • Mereka yang mengutamakan audio dan mekanik solid

Namun, game ini kurang direkomendasikan untuk:

  • Pemain dengan PC mid-range ke bawah
  • Perfeksionis yang benci missable content permanen

Kesimpulan Review Cloudheim: Ide Brilian, Eksekusi Teknis Belum Sempurna

Dalam review Cloudheim ini, jelas terlihat bahwa game ini punya identitas kuat. Gameplay responsif, audio luar biasa, dan ide shop keeping dibalut dengan sandbox memberi warna baru di genre action RPG.

Namun, performa teknis dan spesifikasi yang berat menjadi batu sandungan serius. Cloudheim adalah game yang sangat menyenangkan ketika berjalan mulus, sayangnya, tidak semua pemain bisa merasakannya.

GAME SCORE
8.2/10
GAMEKARTA
× Advertisement
× Advertisement