Inilah alur cerita DOOM: The Dark Ages, di mana akan menguak amarah awal dari sang Slayer! Kalau DOOM (2016) dan DOOM Eternal adalah puncak kemarahan sang Slayer, maka DOOM: The Dark Ages adalah akar dari semuanya. Game ini membawa kita jauh ke masa lalu, sebelum Bumi hancur, sebelum Mars menjadi medan perang. Ini adalah kisah ketika Slayer masih menjadi prajurit andalan Night Sentinels di planet Argent DโNur.
Atmosfernya berbeda. Lebih gelap, lebih kuno, lebih brutal dalam nuansa abad pertengahan. Kastil batu raksasa, langit merah menyala, dan medan perang yang terasa seperti neraka versi kerajaan kuno. Tapi satu hal tetap sama yaitu ketika Slayer bergerak, iblis pasti tumbang. Dan inilah alur cerita DOOM: The Dark Ages, awal mula kemarahan dari sang Slayer!

Sumber: Steam
Dari Prajurit Menjadi Legenda: Awal Perjalanan di Argent DโNur
Sebelum dikenal sebagai mesin pembantai iblis, Slayer adalah bagian dari Night Sentinels yang merupakan pasukan elit di Argent DโNur. Dia bukan sekadar tentara biasa. Ketangguhannya membuatnya menonjol di antara para Argenta lainnya.
Di fase awal alur cerita DOOM: The Dark Ages, kamu sebagai pemain diperlihatkan bagaimana Slayer menjalani berbagai ujian. Dunia Argent DโNur digambarkan sebagai peradaban ksatria kosmik yang menggabungkan teknologi tinggi dengan estetika abad pertengahan. Pedang, perisai, dan ritual kuno berdampingan dengan energi Argent yang misterius.
Perubahan besar terjadi ketika Slayer dipilih dan โdibentuk ulangโ oleh The Makers. Dia tidak lagi sepenuhnya manusia biasa. Transformasi ini menjadikannya superhuman, dia menjadi lebih cepat, lebih kuat, dan hampir tak bisa dihentikan. Inilah fondasi kekuatan yang kelak membuatnya ditakuti di seluruh dimensi.

Sumber: Steam
Invasi Neraka: Perang yang Mengubah Segalanya
Ketika legiun Hell menyerang Argent DโNur, perang pecah dalam skala masif. Pasukan iblis dipimpin oleh archdemon Ahzrak, sosok baru yang menjadi ancaman utama dalam era ini. Serangan mereka bukan sekadar invasi biasa, tapi upaya sistematis untuk menghancurkan peradaban Argenta dari dalam dan luar.
Di sinilah alur cerita DOOM: The Dark Ages menunjukkan identitasnya. Pertempuran terasa lebih berat, lebih berasa, dan penuh nuansa medieval. Slayer menggunakan senjata brutal seperti Shield Saw, sebuah perisai dengan bilah berputar yang bisa ditebas maupun dilempar seperti gergaji raksasa. Kombinasi pertahanan dan agresi ini mencerminkan fase awal gaya bertarungnya.
Perang ini bukan hanya tentang menang atau kalah. Ini tentang kelangsungan eksistensi. Setiap benteng yang jatuh, setiap Sentinel yang gugur, membentuk kemarahan Slayer sedikit demi sedikit.

Sumber: Steam
Pengkhianatan The Makers: Retaknya Kepercayaan
Konflik terbesar dalam alur cerita DOOM: The Dark Ages bukan hanya datang dari Hell, tapi dari dalam. The Makers, entitas yang selama ini dianggap suci dan bijaksana, ternyata menyimpan agenda gelap.
Terungkap bahwa mereka bersekongkol dengan Neraka demi kepentingan tertentu, termasuk rencana invasi ke Bumi. Pengkhianatan ini menjadi titik balik emosional bagi Slayer. Dia tidak lagi sekadar membela Argent DโNur, tapi mulai mempertanyakan sistem dan otoritas yang selama ini dia percayai.
Momen ini penting dalam lore DOOM. Amarah Slayer bukan lahir dari kekacauan semata, melainkan dari rasa dikhianati. Dia diciptakan untuk menjadi senjata, namun ketika mengetahui manipulasi di balik perang, dia memilih jalannya sendiri. Di sinilah dia berubah dari prajurit setia menjadi simbol pemberontakan.

Sumber: Steam
Pertempuran Raksasa: Skala Perang yang Lebih Gila
Salah satu elemen paling mencolok dalam The Dark Ages adalah skala pertempuran yang jauh lebih besar. Slayer tidak hanya berlari dan menembak. Dia juga mengendalikan mesin perang raksasa seperti Atlan, robot kolosal khas Argenta untuk menghadapi iblis berukuran monster.
Belum lagi kehadiran Mecha Dragon, makhluk mekanis yang bisa dikendarai untuk menghujani musuh dari udara. Elemen ini membuat konflik terasa epik, hampir seperti perang mitologi versi sci-fi.
Namun di balik semua spektakel itu, inti ceritanya tetap personal. Setiap pertempuran besar adalah langkah menuju transformasi Slayer menjadi legenda yang kelak dikenal sebagai Doom Slayer.

Sumber: Steam
Alur Cerita DOOM: The Dark Ages, Narasi Lebih Sinematik
Berbeda dengan seri sebelumnya yang minim dialog, DOOM: The Dark Ages disebut menghadirkan pendekatan naratif lebih sinematik. Cutscene dibuat lebih intens untuk memperlihatkan dinamika politik, konflik internal, dan kehancuran Argent DโNur.
Tapi jangan salah ya, ini tetap DOOM. Cerita tidak menghambat gameplay, melainkan menyatu di dalamnya. Setiap level menjadi potongan lore. Setiap arena pertempuran menyimpan konteks sejarah.
Game ini menjadi fondasi dari era abad pertengahan sang Slayer, menjelaskan kenapa ia begitu membenci iblis, dan kenapa dia tidak pernah berhenti memburu mereka, bahkan melintasi dimensi.

Sumber: Steam
Awal dari Amarah Abadi
Pada akhirnya, alur cerita DOOM: The Dark Ages bukan sekadar prekuel melainkan sebuah kisah tentang asal-usul kemarahan. Tentang seorang prajurit yang dikhianati oleh kekuatan yang lebih tinggi, menyaksikan dunianya runtuh, dan memilih untuk menjadi algojo bagi Neraka itu sendiri.
Dari medan perang Argent DโNur hingga kehancuran lintas dimensi, legenda Slayer tidak lahir dalam satu malam. Dia ditempa oleh perang, pengkhianatan, dan kehilangan.
Dan ketika semua itu runtuh hanya ada satu hal tersisa yaitu amarah yang tak pernah padam.

